Membimbing Generasi Kritis dan Mawas Diri
Halaman SMK Negeri 2 Bondowoso yang tak terlalu luas menjadi saksi kekhidmatan seluruh civitas dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Kamis, 1 Oktober 2026. Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., memimpin langsung jalannya upacara. Pesan yang disampaikan mengajak generasi “Pasti Mantab” Smakenda untuk tidak sekadar mengikuti upacara sebagai rutinitas, tetapi mulai memaknai kembali sejarah bangsa, termasuk berbagai peristiwa kelam yang pernah dialami Indonesia.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak berhenti pada kegiatan upacara. MGMP Pendidikan Pancasila dan Sejarah SMK Negeri 2 Bondowoso yang dikoordinatori oleh Dyah Rembulansari menghadirkan kegiatan pembelajaran yang berbeda. Menonton film tentang peristiwa G30S mungkin bukan sesuatu yang baru. Cara siswa mengikuti tayangan kali ini dirancang agar kegiatan menonton tidak berhenti sebagai tontonan.
Siswa diantar, didampingi, dan dibimbing pada setiap sesi penayangan. Setiap segmen film disertai pertanyaan yang mengarahkan perhatian siswa pada informasi, peristiwa, tokoh, maupun konteks sejarah yang ditampilkan. Siswa tidak hanya diminta melihat dan mendengar, tetapi juga menyimak, membaca pertanyaan, menuliskan jawaban, serta mencoba memahami keterkaitan antarkeadaan yang terjadi dalam tayangan.
Pendampingan melibatkan seluruh wali kelas. Setiap kelas mengikuti segmen demi segmen dengan menjawab kuis yang diberikan pada sela-sela penayangan film. Kuis tersebut menjadi bagian dari asesmen literasi yang terintegrasi, mulai dari kemampuan membaca, menyimak, mendengar, hingga menulis. Proses pembelajaran pun tidak berjalan sebagai tanggung jawab guru mata pelajaran semata, tetapi menjadi kerja bersama yang didukung oleh seluruh pihak di sekolah.
Tayangan film menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengevaluasi kondisi sosial pada masa lalu secara lebih bertanggung jawab. Siswa diajak memperhatikan bagaimana ketegangan sosial dapat terbentuk, bagaimana informasi dan situasi politik dapat memengaruhi masyarakat, bagaimana konflik berkembang, serta bagaimana masyarakat dapat menjadi bagian dari sebuah peristiwa, baik secara sadar maupun karena keterbatasan informasi dan kemampuan membaca keadaan.
Evaluasi sejarah tidak berhenti pada pencarian siapa yang benar dan siapa yang salah. Siswa perlu melihat sebuah peristiwa melalui konteks zamannya, memahami rangkaian sebab dan akibat, serta mengenali berbagai kondisi sosial yang memungkinkan sebuah peristiwa berkembang. Cara pandang tersebut membantu siswa memahami bahwa sebuah peristiwa besar tidak lahir secara tiba-tiba. Berbagai kondisi sosial, informasi, kepentingan, respons masyarakat, dan keputusan individu dapat saling berkelindan membentuk sebuah keadaan.
Pemahaman semacam itu membawa pembelajaran sejarah pada kesadaran yang lebih jauh. Masa lalu dapat menjadi bahan evaluasi untuk membaca kemungkinan persoalan sosial pada masa kini dan masa mendatang. Generasi muda perlu memiliki kemampuan mengenali perubahan sosial, membaca situasi secara kritis, memeriksa informasi, serta mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.
Mitigasi sosial menjadi bagian penting dari pembelajaran tersebut. Siswa dibekali kemampuan mengenali potensi provokasi, tidak mudah menerima informasi tanpa pemeriksaan, tidak mudah terseret tekanan kelompok, serta mampu mempertimbangkan konsekuensi sosial dari setiap tindakan. Sikap kritis bukan diarahkan untuk menumbuhkan kecurigaan terhadap setiap perubahan, melainkan membangun kewaspadaan agar siswa mampu menghadapi perubahan dengan nalar yang sehat.
Generasi muda membutuhkan bekal untuk menghadapi bentuk-bentuk persoalan sosial yang mungkin hadir dengan wajah berbeda. Informasi yang bergerak cepat, pengaruh kelompok, konflik kepentingan, serta berbagai bentuk provokasi dapat muncul dalam ruang sosial yang semakin terbuka. Kemampuan membaca situasi menjadi salah satu bentuk ketahanan sosial yang perlu dibangun sejak sekolah.
Pendidikan Pancasila memiliki ruang penting untuk menumbuhkan kemampuan tersebut. Nilai Pancasila tidak cukup berhenti sebagai hafalan atau simbol dalam upacara. Nilai tersebut perlu hadir sebagai dasar bagi siswa ketika membaca persoalan, mempertimbangkan perbedaan, menyikapi informasi, mengambil keputusan, dan menentukan tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun masyarakat.
Hari Kesaktian Pancasila di SMK Negeri 2 Bondowoso pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Upacara menjadi ruang refleksi, film menjadi sumber belajar, kuis menjadi asesmen, pendampingan menjadi penguatan proses belajar, dan keterlibatan seluruh warga sekolah menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.
Sejarah akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang pernah terjadi. Siswa diajak bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting, apa yang dapat dipelajari dari kondisi tersebut, apa yang perlu diwaspadai ketika situasi serupa muncul dalam bentuk yang berbeda, dan apa yang dapat dilakukan generasi hari ini agar masyarakat tidak kembali menjadi korban dari kesalahan yang sama.
Pemaknaan sejarah menjadi bekal untuk membangun kewaspadaan sosial. Evaluasi masa lalu menjadi pijakan untuk membaca masa kini. Kemampuan membaca perubahan menjadi bekal menghadapi masa depan. Generasi “Pasti Mantab” diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai siswa yang mengetahui sejarah bangsanya, tetapi sebagai warga negara muda yang mampu berpikir kritis, menjaga diri dari provokasi, tidak mudah menjadi korban keadaan, serta mengambil bagian dalam menjaga kehidupan sosial yang damai dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
