School Religious School

Mendidik harus sepenuh hati. Itulah kata kunci yang selalu menjadi bekal seorang guru ketika bersiap mendampingi muridnya. Mendidik tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, terlebih ketika yang ingin dibangun adalah karakter religius. Nilai-nilai keagamaan membutuhkan proses internalisasi yang kuat dari seorang pendidik agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya.

SMK Negeri 2 Bondowoso, selalu berupaya membangun budaya religius dilakukan melalui sinergi guru agama, para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan kebijakan sekolah yang menjadi salah satu fokus Bapak Kepala Sekolah, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd. Konsistensi dan kebersamaan inilah yang perlahan membuahkan perubahan. Berbagai kegiatan keagamaan tidak pernah kami mulai dengan target mendapatkan penghargaan. Kami hanya ingin membersamai murid agar memiliki kebiasaan baik yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat Mengaji, misalnya, telah menjadi bagian dari kehidupan sekolah selama kurang lebih 17 tahun. Kebiasaan tersebut kemudian dikuatkan dengan sholat dhuhur berjamaah dan berbagai peringatan hari besar keagamaan yang tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diupayakan memiliki makna dan nilai pembelajaran. Dua tahun terakhir, pembiasaan juga diperkuat melalui program sholat dhuha bersama pada jam ke-0. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, murid bersama para guru dan tenaga kependidikan melaksanakan sholat sunah dhuha.

Tentu, membangun kebiasaan seperti ini bukan tanpa tantangan. Ada proses panjang untuk menumbuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan konsistensi. Namun, penguatan dari semua pihak menjadi modal utama. Ketika guru ikut hadir, mendampingi, dan memberikan teladan, pembiasaan terasa bukan sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan murid, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama di sekolah.

Perubahan baik pun mulai dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Puncaknya, hari ini,  17 September 2026, tiba-tiba kami menerima penghargaan School Religious Culture dari Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi SMK Negeri 2 Bondowoso dalam memberikan penguatan nilai-nilai religius kepada murid.

Bagi kami, penghargaan ini bukanlah tujuan. Ia justru menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan, konsistensi, dan kebersamaan dapat meninggalkan jejak yang berarti. Istimewanya, semua itu tidak lahir dari sekolah dengan fasilitas yang serba memadai. Kami hanya memiliki tekad untuk terus membersamai. Aula sekolah pun kami manfaatkan menjadi ruang untuk melaksanakan ibadah rutin, termasuk sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah.

Pada akhirnya, catatan terbaik bagi kita, mendidik bukan hanya tentang menyediakan fasilitas yang sempurna. Mendidik adalah tentang menghadirkan keteladanan, membangun kebiasaan, dan berjalan bersama murid dengan sepenuh hati. Mungkin hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun ketika sebuah kebiasaan telah tumbuh menjadi budaya, di situlah pendidikan mulai menemukan maknanya.