Internalisasi Kesaksian Pancasila Sakti

Membimbing Generasi Kritis dan Mawas Diri

Halaman SMK Negeri 2 Bondowoso yang tak terlalu luas menjadi saksi kekhidmatan seluruh civitas dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Kamis, 1 Oktober 2026. Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., memimpin langsung jalannya upacara. Pesan yang disampaikan mengajak generasi “Pasti Mantab” Smakenda untuk tidak sekadar mengikuti upacara sebagai rutinitas, tetapi mulai memaknai kembali sejarah bangsa, termasuk berbagai peristiwa kelam yang pernah dialami Indonesia.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak berhenti pada kegiatan upacara. MGMP Pendidikan Pancasila dan Sejarah SMK Negeri 2 Bondowoso yang dikoordinatori oleh Dyah Rembulansari menghadirkan kegiatan pembelajaran yang berbeda. Menonton film tentang peristiwa G30S mungkin bukan sesuatu yang baru. Cara siswa mengikuti tayangan kali ini dirancang agar kegiatan menonton tidak berhenti sebagai tontonan.

Siswa diantar, didampingi, dan dibimbing pada setiap sesi penayangan. Setiap segmen film disertai pertanyaan yang mengarahkan perhatian siswa pada informasi, peristiwa, tokoh, maupun konteks sejarah yang ditampilkan. Siswa tidak hanya diminta melihat dan mendengar, tetapi juga menyimak, membaca pertanyaan, menuliskan jawaban, serta mencoba memahami keterkaitan antarkeadaan yang terjadi dalam tayangan.

Pendampingan melibatkan seluruh wali kelas. Setiap kelas mengikuti segmen demi segmen dengan menjawab kuis yang diberikan pada sela-sela penayangan film. Kuis tersebut menjadi bagian dari asesmen literasi yang terintegrasi, mulai dari kemampuan membaca, menyimak, mendengar, hingga menulis. Proses pembelajaran pun tidak berjalan sebagai tanggung jawab guru mata pelajaran semata, tetapi menjadi kerja bersama yang didukung oleh seluruh pihak di sekolah.

Tayangan film menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengevaluasi kondisi sosial pada masa lalu secara lebih bertanggung jawab. Siswa diajak memperhatikan bagaimana ketegangan sosial dapat terbentuk, bagaimana informasi dan situasi politik dapat memengaruhi masyarakat, bagaimana konflik berkembang, serta bagaimana masyarakat dapat menjadi bagian dari sebuah peristiwa, baik secara sadar maupun karena keterbatasan informasi dan kemampuan membaca keadaan.

Evaluasi sejarah tidak berhenti pada pencarian siapa yang benar dan siapa yang salah. Siswa perlu melihat sebuah peristiwa melalui konteks zamannya, memahami rangkaian sebab dan akibat, serta mengenali berbagai kondisi sosial yang memungkinkan sebuah peristiwa berkembang. Cara pandang tersebut membantu siswa memahami bahwa sebuah peristiwa besar tidak lahir secara tiba-tiba. Berbagai kondisi sosial, informasi, kepentingan, respons masyarakat, dan keputusan individu dapat saling berkelindan membentuk sebuah keadaan.

Pemahaman semacam itu membawa pembelajaran sejarah pada kesadaran yang lebih jauh. Masa lalu dapat menjadi bahan evaluasi untuk membaca kemungkinan persoalan sosial pada masa kini dan masa mendatang. Generasi muda perlu memiliki kemampuan mengenali perubahan sosial, membaca situasi secara kritis, memeriksa informasi, serta mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.

Mitigasi sosial menjadi bagian penting dari pembelajaran tersebut. Siswa dibekali kemampuan mengenali potensi provokasi, tidak mudah menerima informasi tanpa pemeriksaan, tidak mudah terseret tekanan kelompok, serta mampu mempertimbangkan konsekuensi sosial dari setiap tindakan. Sikap kritis bukan diarahkan untuk menumbuhkan kecurigaan terhadap setiap perubahan, melainkan membangun kewaspadaan agar siswa mampu menghadapi perubahan dengan nalar yang sehat.

Generasi muda membutuhkan bekal untuk menghadapi bentuk-bentuk persoalan sosial yang mungkin hadir dengan wajah berbeda. Informasi yang bergerak cepat, pengaruh kelompok, konflik kepentingan, serta berbagai bentuk provokasi dapat muncul dalam ruang sosial yang semakin terbuka. Kemampuan membaca situasi menjadi salah satu bentuk ketahanan sosial yang perlu dibangun sejak sekolah.

Pendidikan Pancasila memiliki ruang penting untuk menumbuhkan kemampuan tersebut. Nilai Pancasila tidak cukup berhenti sebagai hafalan atau simbol dalam upacara. Nilai tersebut perlu hadir sebagai dasar bagi siswa ketika membaca persoalan, mempertimbangkan perbedaan, menyikapi informasi, mengambil keputusan, dan menentukan tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun masyarakat.

Hari Kesaktian Pancasila di SMK Negeri 2 Bondowoso pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Upacara menjadi ruang refleksi, film menjadi sumber belajar, kuis menjadi asesmen, pendampingan menjadi penguatan proses belajar, dan keterlibatan seluruh warga sekolah menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.

Sejarah akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang pernah terjadi. Siswa diajak bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting, apa yang dapat dipelajari dari kondisi tersebut, apa yang perlu diwaspadai ketika situasi serupa muncul dalam bentuk yang berbeda, dan apa yang dapat dilakukan generasi hari ini agar masyarakat tidak kembali menjadi korban dari kesalahan yang sama.

Pemaknaan sejarah menjadi bekal untuk membangun kewaspadaan sosial. Evaluasi masa lalu menjadi pijakan untuk membaca masa kini. Kemampuan membaca perubahan menjadi bekal menghadapi masa depan. Generasi “Pasti Mantab” diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai siswa yang mengetahui sejarah bangsanya, tetapi sebagai warga negara muda yang mampu berpikir kritis, menjaga diri dari provokasi, tidak mudah menjadi korban keadaan, serta mengambil bagian dalam menjaga kehidupan sosial yang damai dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

School Religious School

Mendidik harus sepenuh hati. Itulah kata kunci yang selalu menjadi bekal seorang guru ketika bersiap mendampingi muridnya. Mendidik tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, terlebih ketika yang ingin dibangun adalah karakter religius. Nilai-nilai keagamaan membutuhkan proses internalisasi yang kuat dari seorang pendidik agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya.

SMK Negeri 2 Bondowoso, selalu berupaya membangun budaya religius dilakukan melalui sinergi guru agama, para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan kebijakan sekolah yang menjadi salah satu fokus Bapak Kepala Sekolah, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd. Konsistensi dan kebersamaan inilah yang perlahan membuahkan perubahan. Berbagai kegiatan keagamaan tidak pernah kami mulai dengan target mendapatkan penghargaan. Kami hanya ingin membersamai murid agar memiliki kebiasaan baik yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat Mengaji, misalnya, telah menjadi bagian dari kehidupan sekolah selama kurang lebih 17 tahun. Kebiasaan tersebut kemudian dikuatkan dengan sholat dhuhur berjamaah dan berbagai peringatan hari besar keagamaan yang tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diupayakan memiliki makna dan nilai pembelajaran. Dua tahun terakhir, pembiasaan juga diperkuat melalui program sholat dhuha bersama pada jam ke-0. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, murid bersama para guru dan tenaga kependidikan melaksanakan sholat sunah dhuha.

Tentu, membangun kebiasaan seperti ini bukan tanpa tantangan. Ada proses panjang untuk menumbuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan konsistensi. Namun, penguatan dari semua pihak menjadi modal utama. Ketika guru ikut hadir, mendampingi, dan memberikan teladan, pembiasaan terasa bukan sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan murid, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama di sekolah.

Perubahan baik pun mulai dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Puncaknya, hari ini,  17 September 2026, tiba-tiba kami menerima penghargaan School Religious Culture dari Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi SMK Negeri 2 Bondowoso dalam memberikan penguatan nilai-nilai religius kepada murid.

Bagi kami, penghargaan ini bukanlah tujuan. Ia justru menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan, konsistensi, dan kebersamaan dapat meninggalkan jejak yang berarti. Istimewanya, semua itu tidak lahir dari sekolah dengan fasilitas yang serba memadai. Kami hanya memiliki tekad untuk terus membersamai. Aula sekolah pun kami manfaatkan menjadi ruang untuk melaksanakan ibadah rutin, termasuk sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah.

Pada akhirnya, catatan terbaik bagi kita, mendidik bukan hanya tentang menyediakan fasilitas yang sempurna. Mendidik adalah tentang menghadirkan keteladanan, membangun kebiasaan, dan berjalan bersama murid dengan sepenuh hati. Mungkin hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun ketika sebuah kebiasaan telah tumbuh menjadi budaya, di situlah pendidikan mulai menemukan maknanya.

“Edutainment Hardiknas, Cara Seru Rayakan Hari Pendidikan di Smakenda”

Bondowoso, 4 Mei 2026 . Peringatan Hari Pendidikan Nasional di SMK Negeri 2 Bondowoso berlangsung khidmat sekaligus meriah. Kegiatan diawali dengan upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan upacara sekolah, diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan penuh rasa hormat dan nasionalisme.

Usai upacara, suasana bergeser menjadi lebih dinamis. Berbagai kegiatan edutainment dipusatkan di aula sekolah, menghadirkan nuansa pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kolaborasi antara OSIS Smakenda dan mahasiswa PLP Unesa menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan rangkaian acara tahun ini.

Di dalam aula, siswa disuguhi beragam kegiatan yang mengasah bakat dan minat. Demonstrasi make up harian hingga make up panggung menarik perhatian, memperlihatkan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja. Penampilan seni pencak silat turut menyemarakkan suasana dengan sentuhan budaya yang kental.

Salah satu agenda yang paling diminati adalah lomba menyanyi lagu pop bernuansa nasionalisme. Para peserta tampil percaya diri, menunjukkan kemampuan vokal sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui karya musik yang dekat dengan generasi mereka.

Tak hanya itu, kegiatan literasi juga dikemas secara inovatif melalui game interaktif berbasis digital di aula. Dengan tema pariwisata Indonesia dan tokoh pahlawan nasional, siswa diajak belajar melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter generasi Z. Mahasiswa PLP Unesa pun turut ambil bagian dengan menampilkan berbagai kreativitas dan keterampilan, memberikan inspirasi sekaligus motivasi bagi siswa untuk terus berkembang.

Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Bapak Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi semua pihak yang telah menghadirkan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang berbeda dan bermakna.

“Pendidikan adalah jalan menuju kebahagiaan. Maka, mari kita mulai dengan bahagia, menjalani dengan bahagia, dan mengakhirinya dengan bahagia,” tuturnya.

Perpaduan antara upacara yang khidmat di lapangan dan kegiatan kreatif di aula menjadi gambaran utuh bagaimana pendidikan dapat menyentuh aspek karakter, keterampilan, dan kebahagiaan belajar. SMK Negeri 2 Bondowoso kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan relevan bagi generasi masa kini.

Isra’ Mi’raj sebagai Cermin Diri dan Momentum Reflektif Menyambut Ramadan di SMK Negeri 2 Bondowoso

Bondowoso, 15 Januari 2026. Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di SMK Negeri 2 Bondowoso tahun ini tidak dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial keagamaan, melainkan sebagai ruang refleksi mendalam atas seluruh ikhtiar dan perilaku yang telah dijalani oleh warga sekolah. Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kegiatan ini menjadi ajakan kolektif untuk melakukan kontemplasi diri, serta menimbang kembali kualitas ibadah, kekhusyukan sholat, serta kepedulian terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., dalam penguatannya menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak berhenti pada pencapaian akademik dan keterampilan, tetapi harus berujung pada pembentukan karakter. Penguatan nilai adab, akhlak, dan kesadaran spiritual terus ditanamkan agar peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan bertanggung jawab.

Kegiatan semakin bermakna dengan hadirnya Ustadzah Nyai Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd.I, yang menyampaikan tausiyah dengan gaya ceria, komunikatif, dan penuh energi positif. Melalui pendekatan yang hangat dan interaktif, beliau mampu “membius” perhatian siswa untuk terlibat aktif dalam proses refleksi. Berbagai fokus penguatan karakter disampaikan dengan bahasa yang membumi, mengajak siswa jujur menilai diri, memperbaiki ibadah, serta menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.

Suasana religius semakin terasa ketika gema sholawat dilantunkan secara serempak oleh seluruh hadirin. Lantunan sholawat tersebut menjadi simbol kebersamaan, ketundukan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, sekaligus memperdalam penghayatan spiritual seluruh warga sekolah.

Melalui peringatan Isra’ Mi’raj ini, SMK Negeri 2 Bondowoso menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang seimbang antara kompetensi, karakter, dan spiritualitas. Diharapkan, refleksi yang terbangun mampu menjadi bekal bagi peserta didik dalam menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih, kesadaran yang lebih utuh, serta tekad untuk terus memperbaiki diri.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan ilmu, kelapangan hati, dan kekuatan iman agar setiap langkah ke depan senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.

Konsisten Sholat Dhuha Berjamaah, Sebagai Fondasi Karakter Generasi PASTI MANTAB

SMK Negeri 2 Bondowoso pada semester genap tahun pelajaran ini mulai mengimplementasikan Gerakan Pembiasaan 7 KAIH, yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Gerakan ini dirancang sebagai upaya strategis dan berkelanjutan dalam membangun karakter peserta didik secara utuh melalui integrasi nilai-nilai karakter dalam budaya sekolah.

Sebagai langkah awal, sekolah memfokuskan pembiasaan pada elemen religius melalui pelaksanaan Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjamaah. Kegiatan ini dikoordinir oleh Tim Pengendali Karakter dan dimotori langsung oleh Kepala Sekolah bersama empat Wakil Kepala Sekolah. Pembiasaan religius ini menjadi perhatian utama dalam mengawali penguatan karakter lainnya, karena penguatan rohani diyakini mampu menjadi fondasi dalam membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, serta nilai-nilai moral peserta didik.

Komitmen penguatan karakter juga tercermin melalui pesan-pesan bijak dan arahan inspiratif yang secara rutin disampaikan oleh Kepala Sekolah, Bapak Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., dalam kegiatan briefing pagi bersama seluruh guru. Briefing yang dilaksanakan setiap hari pada pukul 06.45 WIB ini menjadi sarana penyamaan persepsi, penguatan budaya positif, serta pengendalian karakter dalam rangka menyiapkan generasi “PASTI MANTAB” sebagai tagline SMK Negeri 2 Bondowoso.

Pelaksanaan pembiasaan 7 KAIH ini disambut dengan antusias oleh seluruh warga sekolah, baik pendidik, tenaga kependidikan, maupun peserta didik. Terbangunnya semangat kebersamaan dan komitmen kolektif menunjukkan kesadaran bersama akan pentingnya pembentukan karakter siswa yang unggul, berakhlak mulia, disiplin, dan berdaya saing. Kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi berkembang menjadi budaya positif yang memperkuat iklim pendidikan di lingkungan sekolah.

Dukungan yang kuat juga datang dari wali murid, yang menyambut baik serta mendukung penuh pelaksanaan pembiasaan 7 KAIH. Sinergi antara sekolah dan orang tua ini menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi pembiasaan, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan keterlibatan seluruh pihak, diharapkan pembentukan karakter peserta didik dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan siswa secara holistik.

“Ketika Adab Menjadi Hadiah Terindah Perayaan Hari Guru di SMK Negeri 2 Bondowoso”

“Guru Hebat, Negara Kuat”

SMK Negeri 2 Bondowoso hari ini menggelar peringatan Hari Guru Nasional dengan penuh kekhidmatan, apresiasi, dan ekspresi kreatif dari para siswa. Sejak pagi, suasana sekolah dipenuhi semangat kebersamaan ketika seluruh guru dan peserta didik berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para pendidik yang selama ini membimbing dengan dedikasi tanpa batas.

Acara dibuka dengan penyampaian pesan oleh Ibu Mismiati, S.Pd., yang mewakili Kepala Sekolah, Bapak Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa penghargaan tertinggi kepada guru bukanlah sekadar hadiah, bunga, atau ucapan seremonial, melainkan wujud adab dan akhlak mulia. Sikap tawadhu, patuh, dan kesediaan mengikuti nasihat guru menjadi bentuk penghormatan yang sejati. Guru adalah sosok yang layak dimuliakan melalui perilaku, bukan hanya kata-kata.

Momentum peringatan Hari Guru tahun ini juga menjadi kesempatan bagi SMK Negeri 2 Bondowoso untuk memperkuat karakter siswa. Selaras dengan tema nasional “Guru Hebat, Negara Kuat”, sekolah berharap seluruh peserta didik menempatkan guru pada posisi terhormat sebagai pendidik yang mengajar dengan ketulusan, merawat dengan penuh kesabaran, bahkan layaknya merawat anak mereka sendiri.

Suasana semakin meriah ketika OSIS dan beberapa siswa menampilkan flashmob kreatif yang penuh energi. Gerakan yang kompak dan ekspresi yang kuat membuat seluruh penonton terpukau. Penampilan puisi yang dibawakan dengan penuh penghayatan juga menambah kesan mendalam; setiap bait menjadi ungkapan rasa terima kasih dari siswa kepada para guru yang telah berjasa membentuk karakter mereka.

Antusiasme dan tepuk tangan meriah dari seluruh guru dan siswa menjadi penutup acara yang hangat dan penuh makna. Peringatan Hari Guru Nasional di SMK Negeri 2 Bondowoso tahun ini bukan hanya selebrasi, tetapi juga refleksi tentang pentingnya peran guru sebagai pondasi peradaban bangsa.

Semoga Guru Indonesia terus mampu membentuk generasi hebat agar NKRI terus kuat.

SMK Negeri 2 Bondowoso Hadirkan Desainer Nasional Roni Parero sebagai Guru Tamu, Siswa Antusias Belajar Teknik Menjahit “Vest”

Bondowoso, Rabu, 19 November 2025. SMK Negeri 2 Bondowoso kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi peserta didik melalui kegiatan SMK PK PM dengan menghadirkan guru tamu seorang desainer muda ternama tingkat nasional, Roni Parero. Desainer asal Jember yang namanya kian dikenal di dunia fashion tanah air ini memberikan pendampingan langsung kepada para siswa dalam pembuatan outer dengan menerapkan teknik menjahit “Vest”, yakni metode menjahit cepat namun tetap presisi.

Dalam sesi pelatihan, Roni Parero membagikan teknik efisien untuk menyelesaikan bagian-bagian penting outer seperti lengan, bahu, dan keliman. Ia menekankan beberapa langkah kunci, di antaranya memastikan pola lengan pas dengan badan, mengobras jahitan bahu ke belakang agar rapi dan kuat, serta menandai atau menyatukan titik puncak lengan dengan jahitan bahu untuk meminimalisir kesalahan pemasangan yang mengacu pada praktik profesional di industri fashion.

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa. Selain belajar langsung dari ahlinya, para siswa mendapat pengalaman berharga karena hasil karya outer yang mereka buat, baik yang bersifat costum maupun ready stock, langsung mendapat pesanan dari pelanggan. Antusiasme ini menjadi bukti bahwa siswa SMK Negeri 2 Bondowoso mampu menghasilkan karya kreatif yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga bernilai jual.

Dukungan penuh terhadap kegiatan ini diberikan oleh Ibu Mismiati yang mendampingi jalannya pelatihan bersama Ketua Program Keahlian, Ibu Sadiyani Herawati. Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Bapak Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., juga menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa menghadirkan praktisi profesional seperti Roni Parero merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan tuntutan industri.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SMK Negeri 2 Bondowoso berharap dapat terus memperkuat kompetensi siswa dan memperluas jejaring kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, khususnya di bidang tata busana dan fashion design. Hasil outer cantik yang dihasilkan siswa menjadi bukti nyata kualitas dan kreativitas lulusan SMK yang siap bersaing di industri kreatif nasional.

Kolaborasi Lintas Mapel Wujudkan Ekosistem Sekolah Humanis melalui Program “Peduli Diri dan Lingkungan melalui Citizen Collaboration”

Dalam upaya menumbuhkan kesadaran ekologis dan karakter peduli sesama, SMK Negeri 2 Bondowoso melaksanakan kegiatan kokurikuler kolaboratif lintas mata pelajaran bertema “Peduli Diri dan Lingkungan melalui Citizen Collaboration.”
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi peserta didik untuk mengintegrasikan ilmu, nilai, dan tindakan sebagai wujud implementasi pembiasaan 7 KAIH — Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat, dan Tidur Cepat.

Tujuh pembiasaan ini menjadi fondasi pembentukan karakter pelajar yang berdisiplin, sehat, berakhlak mulia, dan berjiwa sosial. Di balik aktivitas yang tampak sederhana, tersimpan makna besar tentang bagaimana peserta didik belajar mengelola diri, merawat lingkungan, serta membangun harmoni antara kehidupan pribadi dan sosial.

Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi aksi bersih-bersih lingkungan sekolah, citizenship vertikal garden, jalan-jalan sehat (JJS), serta pola makan sehat bersama. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar bahwa kepedulian terhadap diri dan lingkungan bukan sekadar tanggung jawab individu, melainkan juga bentuk partisipasi aktif dalam membangun budaya sekolah yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Kolaborasi lintas mapel ini melibatkan sejumlah guru yang memberikan pendampingan sesuai dengan peran dan fungsi bidang ajarnya masing-masing. Guru Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu (IPAS) membimbing siswa memahami keseimbangan pengelolaan lingkungan, dari kebersihan diri, pemilihan asupan bergizi, hingga kepedulian terhadap pengelolaan sampah dan lingkungan asri. Nilai-nilai tersebut berpadu dengan pembelajaran PPKn, yang menegaskan pentingnya tanggung jawab warga negara dalam menjaga ketahanan nasional melalui perilaku sadar lingkungan dan kepedulian sosial.

Berlandaskan pada semangat 7 KAIH, kegiatan ini menjadi contoh konkret pendidikan yang menumbuhkan manusia seutuhnya: sehat secara fisik, kuat secara moral, dan peka secara sosial. Proses belajar tidak berhenti di ruang kelas, melainkan hidup dalam tindakan sehari-hari yang menebarkan nilai kemanusiaan.

Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso, Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pendidikan karakter dan praktik kokurikuler.

“Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin menanamkan bahwa kepedulian dimulai dari diri sendiri, lalu meluas ke lingkungan. Saat peserta didik belajar menjaga kebersihan, menanam, atau makan sehat bersama, mereka sesungguhnya sedang belajar menjadi warga yang bertanggung jawab dan berdaya,” ujarnya.

Program “Peduli Diri dan Lingkungan melalui Citizen Collaboration” menjadi refleksi bahwa pendidikan sejati tidak sekadar menumbuhkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran untuk hidup selaras dengan diri, sesama, dan alam. Dari kebersihan tumbuh kesehatan, dari kesehatan lahir kebahagiaan, dan dari kebahagiaan tumbuh karakter yang mencintai kehidupan.

SMK Negeri 2 Bondowoso Turut Launching 8 Buku Guru dan Siswa di Momentum Pemecahan Rekor MURI Penulisan Buku Dinas Pendidikan Prov. Jawa Timur

Bondowoso – Aula SMA Negeri 2 Bondowoso pada hari ini menjadi saksi lahirnya delapan judul buku karya guru dan siswa SMK Negeri 2 Bondowoso. Acara peluncuran buku ini dilaksanakan serentak bersama kegiatan pemecahan rekor MURI penulisan buku di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yang digelar pada 3–5 Oktober 2025 dan berpuncak di Grand City Hall, Surabaya.

Kepala SMK N 2 Bondowoso Sofyan Sauri, S.Pd.,M.Pd. berkesempatan hadir dalam kegiatan ini bersama sepuluh siswa penulis muda, beliau mendampingi Dyah Rembulansari, S.Pd. salah satu guru SMK N 2 Bondowoso yang produktif menulis buku solo maupun antologi puisi, cerpen, dan kisah inspiratif, yang ikut melakukan pameren buku bersama para penulis lain dari wilayah Cabang Dinas Bondowoso, yang meliputi Kab. Bondowoso dan Situbondo.

Semangat literasi tampak begitu kuat. Dyah Rembulansari bahkan dipercaya menjadi moderator bedah buku karya Kepala SMA Negeri 1 Kapongan. “Menjadi guru literat adalah kewajiban, sebab tidak mungkin kita mampu membimbing dengan baik tanpa pengetahuan yang cukup,” ungkapnya penuh keyakinan.

Hal serupa ditegaskan oleh Kepala SMK Negeri 2 Bondowoso. Dalam sambutannya, ia mendorong siswa agar terus menggiatkan program Duta Literasi Sekolah sehingga nantinya lahir buku-buku berkualitas yang memperkaya pustaka sekolah.

Kehadiran para penulis dari kalangan pengawas, kepala sekolah, guru, dan siswa SMA/SMK se-wilayah Cabang Dinas Bondowoso menjadikan momen ini semakin berkesan. Bukan hanya sekadar perayaan literasi, tetapi juga wujud nyata semangat menulis yang kini telah mengakar di dunia pendidikan Jawa Timur.

“Bekali Kompetensi dan Karakter, Siswa SMK Negeri 2 Bondowoso Siap Melaksanakan PKL”

Bondowoso, 29 September 2025 — Sebanyak 178 siswa kelas XII SMK Negeri 2 Bondowoso resmi dilepas untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di 54 Dunia Usaha dan Dunia Industri/Kerja (DUDIKA) yang telah menjalin kerja sama erat dengan sekolah.

Dalam pengarahan sebelum keberangkatan, Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Bondowoso, Bapak Sofyan Sauri, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa kegiatan PKL bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sebuah langkah nyata untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja.

Sebelumnya, para guru SMK Negeri 2 Bondowoso telah melakukan sinkronisasi kurikulum bersama pihak DUDIKA, agar mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang kerja di industri. Langkah ini memastikan bahwa siswa tidak hanya siap secara teori, tetapi juga memiliki bekal praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja.

Beliau juga menyampaikan harapan besar agar siswa mampu menunjukkan prestasi terbaik selama PKL. “Setiap tahun, siswa SMK Negeri 2 Bondowoso selalu berhasil meraih apresiasi dari DUDIKA, mulai dari penghargaan sebagai peserta PKL terbaik, memperoleh beasiswa, hingga langsung direkrut bekerja bahkan sebelum pengumuman kelulusan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa lulusan kita diterima dan mampu beradaptasi dengan dunia industri sesuai kompetensinya,” ujarnya.

Penguatan juga diberikan oleh Waka Humas, Bapak Miftahussurur, yang mendampingi kepala sekolah. Ia berpesan agar para siswa senantiasa menjaga karakter, komunikasi yang baik, kerja sama dengan rekan, serta kedisiplinan mengikuti SOP di tempat PKL masing-masing. “Ingat, predikat terbaik bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga tentang sikap dan integritas,” tegasnya.

Tak ketinggalan, Ibu Vera, Guru Bimbingan Konseling, yang turut hadir dalam acara pelepasan, juga memberikan motivasi. Ia menekankan pentingnya menjaga sikap positif, fokus pada tujuan, serta menjadikan PKL sebagai pengalaman berharga yang akan mendekatkan siswa pada cita-cita mereka.

Dengan semangat dan doa restu dari seluruh pihak sekolah, para siswa dilepas menuju DUDIKA dengan penuh optimisme. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkaya pengalaman mereka, tetapi juga semakin mengukuhkan reputasi SMK Negeri 2 Bondowoso sebagai sekolah yang lulusannya siap kerja, berdaya saing, dan berkarakter.